PTC LEGIT ONLY

Sabtu, 19 November 2011

TEKS DRAMA SANGKURIANG


SANGKURIANG


Dayang Sumbi keluar dan rumah dengan suluh ditangan
DAYANG SUMBI: Rasa-rasa dalam mimpi bahwa di malam inisedang diciptakan telagabeserta perahunya, dimana aku akan berlayaran sebagai istri dan anakku sendiri Rasa-rasa dalam mimpi bahwa tadi aku dipinang anakku dan nanti akan menjadi ibu dari cucuku sendiri, Ah, satu diantara dua : aku atau anakku, itulah yang sebenarnya bermimpi di malam ini Dan karena kini asal tadi dan bakal nanti, maka siapa yang bermimpi malam ini, itulah yang besok pagi kesiangan, itulah pemimpi sepanjang jaman

BUJANG MUNCUL
DAYANG SUMBI: Bagaimana ? Apa yang nampak di mata ?
BUJANG : Bagai tenaga raksasa yang dicurahkan.
DAYANG SUMBI: Bagaimana ?
BUJANG : Bumi gemuruh pohon-pohon pada tumbangbatu-batu bergulinganmembendung air, Dilanda air Dan siapa yang mengerjakan haiam tidak kelihatan Tapi yang tidak bisa dipungkin lagi telaga luas akan segera terbukti
DAYANG SUMBI: Dan perahu ?
BUJANG : Itupun hampir selesai
DAYANG SUMBI: Kalau begitu, kita tidak boteh lalaiMang Aida Lepa dan kawan-kawannya, mesti segera diminta datang
BUJANG : Baik, Nyai, biar sekarang juga bibi bangunkan semua
BUJANG TURUN
DAYANG SUMBI: Riuh gemuruh dikejauhan, alamat telaga sedang dibangun.Riuh gemuruh di dalam dadaku,karena hati naik turun …..  Ah, hatiku ! hati manusia yang tahu tiada upaya, tapi juga hati seoiang ibu yang diancam bahaya Sebagai manusia, Ya. Dewata Hatiku turun ke bawah telapak kaki-Mu, hidmat menyembah kebesaran-Mu, menyerah mengalah kepada kehendak-Mu yang benar selalu Tapi sebagai ibu, ya, anakku ! Hatiku naik ke atas puncak citamu, keras menolak keingmanmu, bertindak berontak menentang kebenaranmu yang tiada benar bagiku
 BUJANG MUNCUL DIIRINGI ARDA LEPA DAN KAWAN-KAWAN
ARDA LEPA : Ada apa, Nyai ? kami dipanggil di malam sepi ?
DAYANG SUMBI: Mamang, malam ini bukan malam sepi.Malam ini malam yang serammalam yang berat mengancam Anakku Sang Kuriang mulai tadi siang menyatakan pendapatnya yang tidak disangka-sangka Dia tidak mau percaya bahwa mi bukan ibunya
ARDA LEPA : Tapi jika semua orang sependapat dengan Sang Kunang,apa yang hendak kite katakan, kawan?Kita semua tidak menyaksikan kapan Sang Kunang dilahirkan, bukan?
BERSAMA : Biar buta I Biar mati! Tak pernah kita mengetahui.
DAYANG SUMBI: Memang, kalau semua orang sependapat dengan Sang Kuriang,itu terserah kepada merekaTapi bagiku aku adalah ibunya. Kalau aku bukan ibu Sang Kuriang aku tidak akan menolak dia meminang. Dan mamang sekarang tidak akan diminta datang,Apakah mamang setuju anak mengawini ibu ?
ARDA LEPA : Anak mengawini ibu ?.... Yee, itu tidak lucu !
BERSAMA : Itu mesti disapu ! Lebih haram dan jinah !Lebih hewan dari hewan !
ARDA LEPA : Kalau betul Nyai ibu Sang Kunang, kalau betul Sang Kuriang meminang Sang Kunang mesti kami buang !Kalau tidak, kami semua ikut berjinah , Kami menjadi hewan.
DAYANG SUMBI: Nantidulu!!!! Dengar dulu!Sebagai ibu yang kasih sayang teRhada panak, pinangan anakku tidak terangterangan ditolak, Aku berjanji mau kawin dengan dia, asal besok ban sedia perahu dan telaga, Ternyata sekarang Perahu dan telaga sudah hamper siap Berarti Sang Kuriang akan dapat memenuhi permintaan ku.
ARDA LEPA : Jadi sekarang Nyai ingin supaya tidak jadi kawin ?supaya peiahu dan telaga besok tidak bukti ?
DAYANG SUMBI: Betul. Karena itu ku menginginkansupaya kalian membakar hutan,biar apinya bersinar-sinar; menyerupai sinar fajar, biar anakku Sang Kuriang Melihat siang akan mendatang ! biar maksudnya diurungkan, lantaran merasa kesiangan
ARDA LEPA : Ai, ai, Nyai ingin Sang Kunang diajak bermam ?Itu lucu !
BERSAMA : Tapi apa mungkin ? Sang Kuriang lain dari yang lain
 DAYANG SUMBI: Sang Kuriang memang lain dari yang lain tapi Sang Kuriang manusia Dan kepada manusia aku tetap yakin:ada Dewata dalam dirinya Dan selama ada Dewata di dalam diri manusia kewajiban kita bukan menundukan membmasakan tapi menyalakan api ke Dewataan yang bersemayam di tubuh lawan Semoga api pembakar hutan menjadi api kedewataan yang bersinar terang-benderang dalam tubuh Sang Kunang
ARDALEPA : Bagaimana kawan. !!! kita sekarang membakar hutan ?
BERSAMA : Asal terang…… ada anak memang ibu
ARDA LEPA : Yang sudah terang semua manusia adalah satuOrang lain masih kita juga.Karena itu, marilah kita ajak Sang Kuriang bermain bersama kita dengan api di tangan kita Inilah panggilan kita di dalam hidup bersama.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar