PTC LEGIT ONLY

Selasa, 27 Desember 2011

Makalah Tentang GULMA


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I               : PENDAHULUAN
1.1.  Latar Belakang
1.2.  Tujuan
BAB II              : 2.1. Pembahasan
                                    2.1.1. Identifikasi gulma
                                    2.1.2. Morfologi gulma
                                    2.1.3. Daur hidup gulma
                                    2.1.4. Penggolongan gulma berdasarkan sifat botani
                          2.1.5. Penyebaran gulma
                          2.2. Pengendalian gulma
                                    2.2.1. Prinsip pengendalian gulma
                                    2.2.2. Prosedur pengendalian gulma
                                    2.2.3. Cara pengendalian gulma
BAB III             : KESIMPULAN DAN SARAN
                          3.1. Kesimpulan
                          3.2. Saran
BAB IV             : PENUTUP
                          4.1 Penutup
DAFTAR PUSTAKA





BAB I

PENDAHULUAN
Di Indonesia gulma merupakan makhluk hidup berhijau daun yang dapat menurunkan kualitas dari tanaman yang di budidayakan oleh semua petani. Beberapa cara pengendalian gulma telah dilakukan agar gulma tidak menurunkan produksi.

1.1 Latar Belakang masalah

   Didalam komoditas suatu tanaman selalu ada persaingan dalam penyerapan makanan yang terjadi. Terutama persaingan antara tanaman yang dibudidayakan dan gulma yang memperebutkan unsure hara.
Dalam kesempatan kali ini akan dibahas mengenai gulma dan macam-macamnya serta cara pengendaliannya.
1.2    Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut :
Ø      Pembaca mengetahui jenis-jenis gulma
Ø      Pembaca mengetahui cara mengendalikan gulma.


   

BAB II
2.1 Pembahasan

2.1.1 Identifikasi gulma

Gulma adalah tanaman yang tumbuh tidak pada tempatnya yang memberi pengaruh negative sehingga merugikan manusia.
Pengaruh negative gulma
·        Persaingan dalam unsur hara
·        Menurunnya produksi
·        Gulma bisa menjadi inang hama dan penyakit
·        Gulma bisa membuat tanaman keracunan
·        Gulma bisa menyulitkan pekerjaan dilapangan dan dalam pengolahan hasil
·        Merusak dan menghambat penggunaan alat pertanian
·        Mengurangi jumlah dan kualitas  air
·        Menghambat lalu linta s air
·        Menimbulkan pendangkalan perairan
·        Biaya produksi meningkat
2.1.2 Morfologi gulma

1. Gulma golongan reruputan (grasses)
Mencangkup gulma jenis gulma yang termasuk ke dalam famili gramineae. Ex : alang-alang
Gulma ini merupakan komponen terbesar dari populasi gulma karena memiliki daya adaptasi yang cukup tinggi. Distribusinya amat luas dan mampu hidup dalam kondisi kekeringan maupun tergenang air.
Cirri-cirinya :
1.      Batang umumnya silinder tetapi ada juga yang pipih atau persegi.
2.      Batang biasanya berongga
3.      Tulang daunnya sejajar
4.      Di tengah helai daun terdapat ibu tulang daun.
eX        :
  1. Alang – alang (Imperata cylinarica L)
  2. Rumput pahit ( Axonopus Compressus sp )
  3. Grinting           ( Cynodon daetylon L )
  4. jajagoan          ( Echinochioa erus-gavi L )
  5. Bobontengan   ( leptochloa chinensis L )

2.        Gulma golongan berdaun lebar ( Broad leaft weeds )
Gulma yang ummnya terdiri dari golongan dycotil dan pteridophyta ( palu-paluan)
Ciri-ciri umum :
·        Ukuran daunnya lebar
·        Tulang daun berbentuk jari
·        Terdapat tunas-tunas tambahan pada setiap ketiak daun
Ex   :
1.      Bayam berduri (Amarantus spinosus L )
2.      jengger ayam ( Heliotropium indieum L )
3.      Wedusan/ babandotan ( Agerantum connyzoides L )
4.      Benjer   ( Limnocharis Flava )
5.      Kayu apu ( Pistia stratiotes L )

3.        Golongan teki (sedger)
Masuk dalam famili Cyperareae
Ex   : teki ( Cyperus rotundus L )
Berdasarkan habitat
·        Gulma darat ( terres rotundus )
Ø      Tumbuhnya di dalam lahan kering, jika tergenang air mati.
Ex  : 1. Teki ( Cyperus rotundus L )
        2. Alang-alang ( Imperata Cylindriata L )
        3. Sanggo langit

·        Gulma air (Aquatic Lweeds )
Ø      Tumbuhnya sebagian / seluruhnya ada di air
Ex  : 1. hidrilla ( Hidrilla Verticillata )
        2. Genjer ( Limnocharis Flava )
        3. Enceng gondok ( Eichornia crassipes )
        4. Ganggeng ( Cerotophyllum demersum )

2.1.3 Daur hidup Gulma
Berdasarkan daur hidupnya, gulma dibedakan menjai 3
a.      Gulma semusim ( Annual weeds )
Gulma yang umurnya kurang dari satu tahun. Gulma ini umumnya berkembang biak dengan biji, pertumbuhannya cepat dan memiiki kemampuan berproduksi yang amat tinggi. Setelah biji masak, biasanya gulma akan mati. Biji yang dihasilkan pada tahun pertama umumnya akan mengalami dermonsi, dan tumbuh kembali pada tahun berikutnya.
Ex        : 1. Bayam duri ( Amorantus spinosus L )
              2. Ekor tikus ( heliotropium indicum L )
              3. Urang – aring ( Eclipta prostrate )
              4. Babandotan ( Agerantum conyzoldes )
              5. Teki ( Cyperus Rotundus L )
              6. Jekeng/ teki rendus ( Cyperus irla L )
              7. Jampang piit ( Digitaria adscendens (H.B.K) Hern )
              8. Jajagoan leutik ( Echinochioa colonum (L) Link )
              9. Rumput Emrit ( Era-grostis amabitis O.K )
b.      Gulma Dwi Muslim ( Biennial weeds )
Gulma yang berumur antara 1-2 tahun. Pada tahun pertama gulma tersebut tumbuh secara negative dan pada tahun berikutnya membentuk organ generatif. Gulma ini banyak dijumpai di daerah yang memiliki 4 musim.
Ex : 1. Daun sendak ( Plantoga Sp )
       2. Sunduk welut ( Cyperus difformis L )
       3. Putri malu ( Mimosa Sp )

c.       Gulma tahunan ( perennial weeds )
Gulma yang umurnya lebih dari 2 tahun. Gulma ini umumnya berkembang biak secara vegetatif dan generatif. Organ perkembangbiakan stolon. Pemotongan organ-organ tersebut biasanya terjadi saat pengolahan tanah.
Ex :      1. Kremek (Alternatera sessilis (L) D.C )
            2. Jukut ibun ( Drymaria cordata willd )
            3. Teki ( Cyperus rotundus L )
            4. Si juru tilu/wlingi ( Scirpus grossus L )
            5. Papahitan (Axonopus compressus ( swartz) Beaur )
            6. Jajahean/lempuyangan (Panitum repens L )
            7. Kakawatan ( Cynodon dactylon L pres)
            8. Alang-alang (Imperanta Cylindria (L) Beaw )
            9. Kolomento ( Ieersia Henxandra Swartz )
            10. Tembeleken ( Lantana camara L )

2.1.4 Penggolongan gulma berdasarkan sifat botani
1.      Golongan Monocotyleclone
Ex        : Cyperus rothundus, panicum repens
2.      Golongan clicotyledone
Ex        : amaranthus sp
3.      Golongan paku – pakuan (Pteridophyta )
Ex        : neprolepsis bisserata

2.1.5 Penyebaran gulma
1.      Aktifitas/ kekuatan gulma itu sndiri
Ø      Terutama pada tanaman jenis leguminoceae berkembang biak melalui biji pada polong yang sudah tua, polong akan pecah dengan sendirinya dan biji akan terlempar keluar dan m enjadi individu baru
2.      Dengan bantuan alam
  • Air = terutama pada gulma yang habitatnya di air
Ex : enceng gondok

  • Udara/angina = gulma yang memiliki biji yang ringan sehingga mudah diterbangkan oleh angina.
Ex : alang-alang
  • Tanah = biasanya tercampur pada kotoran ternak
3.      Dengan bantuan makhluk hidup
  • Mamalia
Ø      Epizoctory : biji gulma menempel pada bagian luar tubuh binatang sehingga gulma bisa tersebar.
  • Aves/burung
  • Manusia

2.2 Pengendalian gulma
2.2.1 Perinsip pengendalian Gulma
1.      Pencegahan / eksklusif
2.      pengendalian / weed control
dilakukan saat gulma di ambang ekonomi
3.      Eradikasi
Pengendalian sangat mahal, gulma diberantas sampai habis

2.2.2 Prosedur pengendalian gulma
1.      Pencegahan
2.      Pengendalian secara mekanik
3.      Pengendalian secara teknis
4.      Pengendalian secara kimiawi
5.      Pengendalian secara terpadu

2.2.3 Cara mengendalikan gulma
1. Pencegahan
·        Menyeleksi benih tanaman budidaya untuk menghindari kemungkinan tercamurnya benih gulma
·        Membersihkan alat pertanian setiap seusai dipakai
·        Membuat peraturan / perundang – undangan karantina untuk mencegah masuknya gulma dari satu daerah dan daerah lainnya.
·        Melakukan sanitasi pada pinggir selokan/ bangunan pengairan
2. Pengendalian secara mekanik
Usaha melakukan pertumbuhan gulma dengan cara merusak sebagian atau seluruhnya bagian gulma.
Tata cara         :
v     Pembabatan
Spesifikasi pelaksanaan pengendalian
o       Alat yang digunakan biasanya arit atau parang
o       Fungsi alat pembabat adalah memotong gulma bagian atas ( dipermukaan tanah), sehingga kelak gulma akan tumbuh lagi
o       Cara ini umumnya dipraktekkan pada lahan perkebunan, haltikutura, lapangan rumput dihalaman, tempat rekreasi dan lapangan golf.
o       Paling baik dilakukan pada lahan-lahan yang miring
v     Menginjak-injak
o       Umumnya dilakukan saat menyiapkan lahan sawah untuk menanam padi
v     Pencangkulan
o       Umunya dilakukan dilahan kering dengan tujuan untuk mengangkat perakaran gulma, sehingga akhirnya gulma mati.
v     Penggunaan lalandan
o       Umumnya dilakukan dilahan sawah, dengan tujuan untuk merusak seluruh bagian gulma, jenis lalandak yang biasanya digunakan adalah lalandak sepatu (garrak) dan lalandak roda.


v     Pencabutan
o       Cara ini efektif dilakukan pada gulma stadium muda di areal yang sempit
v     Pembakaran
a.                  Cara ini banyak dipraktekkan pada tempat yang belum ditanami tanaman budidaya, dan sulit di kendalikan dengan cara lain
Keuntungan cara pembakaran adalah tidak menimbulkan efek residu baik pada tanah maupun terhadap tanaman budidaya serta terbunuhnya organisme penyakit.
b.         kekurangan (kelemahan) cara ini adalah dapat menimbulkan bahaya kebakaran, mengurangi kandungan humus dan mikroba tanah, asapnya dapat menimbulkan alergi, memperbesar erosi, alat dan bahan bakarnya mahal.
v     Penggenangan
a.      Umumnya dipraktekkan pada pengendalian gulma darat ( terrestrial weed) di lahan wasah.
b.      Paling mangkus di lakukan setelah tanah di bajak, kwmudian di biarkan di genangi air sedalan 25cm-30cm selama 15-30 hari
v     Penggunaan mursa
a.      Fungsi mulsa adalah mengurangi jumlah (insensitas) cahaya yang diterima gulma, sehingga gulma terhambat pertumbuhan/ mati.
b.      Cara ini banyak di praktekkan pada lahan perkebunan dan kultura
c.       Bahan mulsa dapat berupa sisa-sisa tanaman, tanaman pupuk hijau, serbuk gergaji, sekom padi, belahan batang pisang, dan plastic hitam perak.

3. Pengendalian secara biologis
Pengendlian gulma dengan menggunakan organisme hidup
Tata cara pengendalian :
1.      Pengendalian sejenis kaktus oleh larva rootoblastis cactorum
2.      Pengendalian gulma hidrilia dn enceng lembut leh ikan mujair
3.      pengendalian gulma alang-alang oleh tanaman penutup tanah seperti callopoganium, centrosema, pueraria.
 4.      Pengendalian secara kultur teknis
Pengendalian secara kultur teknis didasarkan pada segi ekologi, yaitu berusaha menciptakan kondisi lingkungan yang sesuai dengan tanaman budidaya sehingga tumbuh dengan baik dan mampu bersaing dengan gulma, setiap aspek budidaya secara langsung/ tidak langsung dapat mengurangi atau menekan pertumbuhan gulma.
Tata cara pengendalian gulma secara kultur teknis
  1. Pengolahan tanah
  2. Penggunaan benih tanaman budidaya yang bebas gulma
  3. Pengaturan jarak tanam
  4. Perguliran (rotasi) tanaman.
  5. Pemupukan
  6. Pengolahan tanah.
 Karateriktis Pengendalian gulma secara kultur teknis

NO
Komponen pengendalian
Karakteristik cara pengendalian
1
Pengolahan tanah
a.      Pada saat pengolahan tanah pertama gulma di benamkan ke dalam tanah/ system pencangkulan lai ( lubang )
b.      Pengolahan tanah ke2 untuk merusak dan mematikan gulma yang masih tumbuh
2
Penggunaan benih tanaman budidaya bebas gulma
a.      Melakukan seleksi benih tanam. Budidaya dari biji-biji gulma yang terbawa dengan  cara direndam dalam air. Biji gulma yang kecil akan terapung untuk segera dipisahkan dari benih tanaman budidaya.
3
Penguburan jaraka tanam
Pengaturan jarak tanam yang optimal pada setiap komoditas sesuai dengan dianjurkan dapat mengurangi ruang gerak pertumbuhan gulma.

4
Pergiliran tanam
Mengatur pola tanam dengan jenis tanaman lain yang mempunyai pertumbuhan berbeda dengan tanaman sebelumnya pola tanam dapat berupa system campuran, tumpang sari, sisipan, beruntun, tumpang gilir dll, sehingga tanaman lebih lama tertutup. Budidaya sekaligus mengurangi kesempatan tumbuhnya gulma.
5
Pemupukan
Tanaman pokok yang diberikan pupuk berimbang akan tumbuh subur. Sehingga mampu bersaing dengan gulma.
6
Pengolahan tanah
Pada lahan persemian dilakukan pengolahan tanah secara dangkal. Sehingga biji-biji dipaksa berkecambah dan dapat segera dibersihkan, di lahan kebun dapat dilakukan pembajakan minimal (minimum fillage ), kemudian ditanami tanaman. Penutup tanah (cover group ) agar gulma tidak mempunyai kesempatan untuk tumbuh pada suatu lahan.

5.      Pengendalian secara kimiawi.
Pengendalian secara kimiawi dilakukan dengan menggunakan senyawa kimia (herbisida) untuk menghambat atau mematikan pertumbuhan gulma. Selain herbisida membunuh gulma. Juga dapat membunuh organisme lain. Sehingga penggunaan harus selektif dan menjadi alternative terakhir. Keuntungan menggunakan herbisida antara lain hasilnya cepat terlihat, biaya aplikasi pada lahan yang luas dapat murah (rendah) waktu aplikasinya singkat dan cepat serta tenaga kerja (aplikator) yang dibutuhkan relative sedikit.
Kelemahannya menyebabkan residu dalam tanah, pencemaran lingkungan, memerlukan pengetahuan dan keterampilan dalam aplikasinya, serta mengurangi kesempatan kerja.


6.      Pengendalian secara terpadu
Ø      Pengendalian dengan mempraktekkan beberapa teknik pengedalian yang serasi untuk menekan pertumbuhan dan meatikan gulma sampai batas yang secara ekologi tidak merugikan. Pengendalian secara terpadu harus mempertimbangkan keadaan lingkungan dan factor ekologi
Tata laksana pengendalian gulma secara terpau adalah sebagai berikut :
a.      Pengamatan jenis gulma
  1. perhatikan jenis gulma yang tumbuh
  2. tentukan gulma yang merugikan
  3. catat karakteristik atau sifat pertumbuhannya
b.      Penelaahan lingkingan
  1. Perhatikan kondisi lingkungan
  2. Identifikasi factor lingkungan yang mendukung perkembangan gulma penggangu utama.
c.       Tindakan pengendalian
Tahap berikutnya menekan tehnik pengendalian yang baik, serasi dan terpadu dengan memperhatikan aspek ekologis, ekonomis, toksikologis, dan aspek sosialnya.

  
BAB III

KESIMPULAN DAN SARAN

3.1  Kesimpulan.
Dari isi makalah ini dapat disimpulkan bahwa :
Ø      Gulma merupakan salah satu factor yang menghambat produksi tanaman meningkat
Ø      Cara pengendalian gulma yang tepat dapat memutus siklus hidup gulma.

3.2  Saran
Ø      Saat mengendalikan gulma. Harus di perhatikan resiko yang akan di dapat.

                            
BAB IV

PENUTUP

4.1 Penutup
       Semoga makalah ini bisa berguna bagi para pembaca dan bermanfaat bagi semuanya.

  

DAFTAR PUSTAKA

zukerahma.blogspot.com



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar