inrinsik dan ekstrinsik pada novel Siti Nurbaya
Data Novel:
Siti Nurbaya ( Kasih Tak Sampai )
Pengarang : Marah Rusli
Penerbit : Balai Pustaka
Tahun Terbit : 1992
Tempat Terbit : Jakarta
Pelaku : Siti Nurbaya, Samsulbahri, Datuk Maringgih, Baginda Sulaiman,
dan Sultan Mahmud.
UNSUR INTRINSIK:
Tokoh dan Karakter Tokoh
Istilah tokoh menunjuk pada orangnya, pelaku
cerita, sedangkan watak, perwatakan, atau karakter menunjuk pada sifat dan
sikap para tokoh yang menggambarkan kualitas pribadi seorang tokoh. Tokoh
cerita menempati posisi strategis sebagai pembawa dan penyampai pesan, amanat,
atau sesuatu yang sengaja ingin disampaikan kepada pembaca. Secara umum kita
mengenal tokoh protagonis dan antagonis.
Karakter dan sifat
Tokoh-tokoh pada Novel:
Siti Nurbaya :
baik, rela berkorban demi ayahnya.
Samsulbahri : baik,
bijak, rela berkorban demi Siti Nurbaya.
Baginda Sulaiman : Pasrah pada nasib, kurang bijak, rela mengorbankan
anaknya demi membayar hutang.
Sultan Mahmud : Kurang berpikir panjang, tidak bijak dan terlanjur
terburu-buru dalam membuat keputusan.
Datuk Maringgih : culas, moralnya bobrok, serakah, jahat, biang masalah.
Latar
Latar dalam sebuah cerita menunjuk pada pengertian
tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadinya
peristiwaperistiwa yang diceritakan. Latar memberikan pijakan cerita secara
konkret dan jelas. Hal ini penting untuk memberikan kesan realistis kepada
pembaca, menciptakan suasana tertentu yang seolah-olah sungguh-sungguh ada dan
terjadi. Unsur latar dapat dibedakan ke dalam tiga unsur pokok, yaitu sebagai
berikut:
Latar Tempat
Latar tempat merujuk pada lokasi terjadinya peristiwa. Unsur tempat yang dipergunakan mungkin berupa tempat-tempat dengan nama tertentu.
Latar tempat merujuk pada lokasi terjadinya peristiwa. Unsur tempat yang dipergunakan mungkin berupa tempat-tempat dengan nama tertentu.
Latar tempat dalam
Novel: Di kota Padang
dan di Stovia, Jakarta
(tempat sekolah Samsulbahri)
Latar Waktu
Latar waktu berhubungan dengan "kapan" terjadinya peristiwaperistiwa yang diceritakan.
Latar waktu berhubungan dengan "kapan" terjadinya peristiwaperistiwa yang diceritakan.
Latar Waktu dalam
Novel: pada masa dimana Kota Padang masih terjadi banyak huru hara juga saat dimana
moral masih bobrok.
Latar Sosial
Latar sosial merujuk pada hal-hal yang berhubungan dengan perilaku kehidupan dosial masyarakat di suatu tempat yang diceritakan dalam karya fiksi. Latar sosial dapat berupa kebiasaan hidup, istiadat, tradisi, keyakinan, pandangan hidup, cara berpikir dan bersikap, serta hal-hal lainnya.
Latar sosial merujuk pada hal-hal yang berhubungan dengan perilaku kehidupan dosial masyarakat di suatu tempat yang diceritakan dalam karya fiksi. Latar sosial dapat berupa kebiasaan hidup, istiadat, tradisi, keyakinan, pandangan hidup, cara berpikir dan bersikap, serta hal-hal lainnya.
Latar Sosial dalam Novel: Merupakan banyak mengandung unsur
adat-istiadat Melayu.
Alur (Plot)
Alur adalah urutan peristiwa yang berdasarkan hukum
sebab akibat. Alur tidak hanya mengemukakan apa yang terjadi, akan tetapi
menjelaskan mengapa hal ini terjadi. Kehadiran alur dapat membuat cerita
berkesinambungan. Oleh karena itu, alur biasa disebut juga susunan cerita atau
jalan cerita. Ada
dua cara yang dapat digunakan dalam menyusun bagianbagian cerita, yakni sebagai
berikut. Pengarang menyusun peristiwa-peristiwa secara berurutan mulai dari
perkenalan sampai penyelesaian. Susunan yang demikian disebut alur maju. Urutan
peristiwa tersebut meliputi:
- mulai melukiskan keadaan : Saat ayah siti Nurbaya masih sukses. (Bukti: Ibunya meninggal saat Siti Nurbaya masih kanak-kanak, maka bisa dikatakan itulah titik awal penderitaan hidupnya. Sejak saat itu hingga dewasa dan mengerti cinta ia hanya hidup bersama Baginda Sulaiman, ayah yang sangat disayanginya. Ayahnya adalah seorang pedagang yang terkemuka dikota
Padang .
Sebagian modal usahanya merupakan uang pinjaman dari seorang rentenir bernama
Datuk Maringgih.)
- mulai melukiskan keadaan : Saat ayah siti Nurbaya masih sukses. (Bukti: Ibunya meninggal saat Siti Nurbaya masih kanak-kanak, maka bisa dikatakan itulah titik awal penderitaan hidupnya. Sejak saat itu hingga dewasa dan mengerti cinta ia hanya hidup bersama Baginda Sulaiman, ayah yang sangat disayanginya. Ayahnya adalah seorang pedagang yang terkemuka di
- peristiwa-peristiwa mulai bergerak: Datuk
Maringgih mulai culas. (Bukti: Pada mulanya usaha perdagangan Baginda Sulaiman
mendapat kemajuan pesat. Hal itu tidak dikehendaki oleh rentenir seperti Datuk
Maringgih. Maka untuk melampiaskan keserakahannya Datuk Maringgih menyuruh kaki
tangannya membakar semua kios milik Baginda Sulaiman. Dengan demikian hancurlah
usaha Baginda Sulaiman. Ia jatuh miskin dan tak sanggup membayar
hutang-hutangnya pada Datuk Maringgih. Dan inilah kesempatan yang
dinanti-nantikannya. Datuk Maringgih mendesak Baginda Sulaiman yang sudah tak
berdaya agar melunasi semua hutangnya. Boleh hutang tersebut dapat dianggap
lunas, asalkan Baginda Sulaiman mau menyerahkan Siti Nurbaya, puterinya, kepada
Datuk Maringgih.)
- keadaan mulai memuncak : Samsulbahri mengetahui nasib Siti Nurbaya. (Bukti: Siti Nurbaya menangis menghadapi kenyataan bahwa dirinya yang cantik dan muda belia harus menikah dengan Datuk Maringgih yang tua bangka dan berkulit kasar seprti kulit katak. Lebih sedih lagi ketika ia teringat Samsulbahri, kekasihnya yang sedang sekolah di stovia,
- mencapai titik puncak : Samsulbahri dan Datuk Maringgih saling bunuh. (Bukti: Sepuluh tahun kemudian, dikisahkan dikota
- pemecahan masalah/ penyelesaian : setelah
membunuh Datuk Maringgih, Samsulbahri pun akhirnya tewas tanpa mendapatkan
gadis pujaannya Siti Nurbaya. (Bukti: Samsulbahri alias Letnan Mas segera
dilarikan ke rumah sakit. Pada saat-saat terakhir menjelang ajalnya, ia meminta
dipertemukan dengan ayahandanya. Tetapi ajal lebih dulu merenggut sebelum
Samsulbahri sempat bertemu dengan orangtuanya dan Siti Nurbaya yang telah
mendahuluinya.)
Sudut Pandang
Sudut pandang adalah visi pengarang dalam memandang suatu peristiwa
dalam cerita. Untuk mengetahui sudut pandang, kita dapat mengajukan pertanyaan
siapakah yang menceritakan kisah tersebut? Ada
beberapa macam sudut pandang, di antaranya sudut pandang orang pertama (gaya bercerita dengan
sudut pandang "aku"), sudut pandang peninjau (orang ketiga), dan
sudut pandang campuran. Sudut Pandang dalam Novel : sudut pandang orang ke-3.
Tema
Tema adalah persoalan pokok sebuah cerita. Tema disebut juga ide cerita.
Tema dapat berwujud pengamatan pengarang terhadap berbagai peristiwa dalam
kehidupan ini. Kita dapat memahami tema sebuah cerita jika sudah membaca cerita
tersebut secara keseluruhan.
Tema Novel: Tema Novelnya adalah kisah cintayang tak kunjung padam dari
sepasang anak manusia yaitu Siti Nurbaya dan Samsulbahri.
Amanat
Melalui amanat, pengarang dapat menyampaikan sesuatu, baik hal yang
bersifat positif maupun negatif. Dengan kata lain, amanat adalah pesan yang
ingin disampaikan pengarang berupa pemecahan atau jalan keluar terhadap
persoalan yang ada dalam cerita.
Amanat yang terkandung dalam Novel:
Demi orang-orang yang dicintainya seorang wanita bersedia mengorbankan
apa saja meskipun ia tahu pengorbanannya dapat merugikan dirinya sendiri.
Lebih-lebih pengorbanan tersebut demi orang tuanya.
Bila asmara
melanda jiwa seseorang maka luasnya samudra tak akan mampu menghalangi jalannya
cinta. Demikianlah cinta yang murni tak akan padam sampai mati.
Bagaimanapun juga praktek lintah darat merupakan sumber malapetaka bagi
kehidupan keluarga.
Menjadi orang tua hendaknya lebih bijaksana, tidak memutuskan suatu
persoalan hanya untuk menutupi perasaan malu belaka sehingga mungkin berakibat
penyesalan yang tak terhingga.
Dan kebenaran sesungguhnya di atas segala-galanya.
Akhir dari segala kehidupan adalah mati, tetapi mati jangan dijadikan
akhir dari persoalan hidup.
UNSUR EKSTRINSIK:
Adapun unsur ekstrinsik adalah unsur-unsur yang berada di luar karya
sastra, tetapi secara tidak langsung mempengaruhi bangun cerita sebuah karya.
Yang termasuk unsur ekstrinsik karya sastra antara lain sebagai berikut.
1. Keadaan subjektivitas pengarang yang memiliki sikap, keyakinan, dan pandangan hidup.
1. Keadaan subjektivitas pengarang yang memiliki sikap, keyakinan, dan pandangan hidup.
Keadaan Subjektivitas: pengarang berusaha melakukan inovasi baru, dengan
menggebrak Sastra Indonesia Modern dengan melncurkan novel ini dengan gaya bahasa sendiri.
Pandangan hidup penulis adalah pandangan hidup ke depan dan penuh inovasi baru.
Dan juga tak terpaut juga terkekang dengan adat istiadat lama.
2. Psikologi pengarang (yang mencakup proses kreatifnya.
Psikologi pengarang: merasa terkekang dengan adat istiadat lama, dan
melakukan terobosan dengan mengarang buku novel, “Siti Nurbaya”.
3. Keadaan di lingkungan pengarang seperti ekonomi, politik, dan sosial.
Keadaan yang terjadi: masih terkekang dalam kehidupan adat istiadat yang
masih kuno, baik dari segi ekonomi, politik dan sosialnya. Lalu pengarang
berusaha membuat terobosan baru dengan karyanya.
4. Pandangan hidup suatu bangsa dan berbagai karya seni yang lainnya.
Pandangan yang terjadi: pada saat itu pandangan karya seni cenderung
monoton, dan gaya bahsanya hanya itu saja, jadi
Marah Rusli membuat gebrakan dengan memunculkan gaya bahasa Melayu.
KALIMAT PENDUKUNG
Bila asmara
melanda jiwa seseorang maka luasnya samudra tak akan mampu menghalangi jalannya
cinta. Demikianlah cinta yang murni tak akan padam sampai mati. Menjadi orang
tua hendaknya lebih bijaksana, tidak memutuskan suatu persoalan hanya untuk
menutupi perasaan malu belaka sehingga mungkin berakibat penyesalan yang tak
terhingga.




makasih ya kak tugas aku jadi selesai deh.....
BalasHapusOk sama-sama...
Hapuskalo butuh tugas lagi tinggal request ato koment aja...
ntar aku upload lagi...
^_^
kak maksih ea aq jd lbih mudah memahaminya ....
Hapusiya sama-sama..
HapusKomentar ini telah dihapus oleh penulis.
BalasHapusadat kebiasaan, etika, sama keterkaitan sama kehidupan sekarang dari novel sitti nurbaya apa kak? bantuin dong pliiis, sama contohnya :)
BalasHapusijin copas buat tugas ya ^^
BalasHapusok silahkan.......
BalasHapuscara mengenali tahapan-tahapan alur pada novel itu gimana..?
BalasHapus